Budaya “Nyablak” dan Pengaruhnya pada Kesehatan Mental Anak

Selama beberapa bulan terakhir ini sering kali muncul konten video komedi singkat baik di Instagram maupun TikTok yang berisikan seseorang Ibu yang berbicara “Nyablak” dan terkesan sedang memarahi anaknya. Video ini sepenuhnya hanyalah komedi semata yang mengekspresikan karakter maupun budaya suatu kelompok masyarakat di Indonesia yang terkesan blak-blakan atau nyablak. Di samping itu secara tidak langsung juga sebagai bukti adanya budaya pada pola asuh anak yang terkesan tempramental.

Ada banyak respon dari kehadiran komedi semacam ini dan sebagian besar masyarakat menyukai budaya “nyablak” yang mana terdengar orisinil dan menghibur.

Tapi tahukah anda bahwa tindakan tersebut dapat disebut sebagai kekerasan verbal terhadap anak?

Suatu pola komunikasi yang bersifat konfrontatif dan dengan konotasi negatif dapat memperburuk kesehatan mental seorang anak. Terlebih lagi jika individu terkait sudah memiliki kondisi mental yang tidak stabil.

Dikutip dari WHO, kesehatan mental merupakan kondisi dimana individu memiliki kesejahteraan yang tampak dari dirinya yang mampu menyadari potensinya sendiri, memiliki kemampuan untuk mengatasi tekanan hidup normal pada berbagai situasi dalam kehidupan, mampu bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya.

Kekerasan verbal pada anak digolongkan dalam penganiayaan emosional yang mana berpengaruh pada kesehatan mental anak. Hal ini terjadi terlepas dari konteks dan tujuan orangtua dalam penyampaian yang hanya sekedar peluapan emosi maupun ekspresi budaya semata. Penganiayaan emosional ditandai dengan kata-kata yang merendahkan anak. Kondisi ini biasanya berlanjut dengan melalaikan anak, mengisolasi anak dari hubungan sosialnya, atau menyalahkan anak secara terus menerus.

Kekerasan verbal ini termasuk ke dalam kategori kekerasan psikologis pada klasifikasi penghinaan atau humiliation. Penghinaan yang dimaksud adalah menghina, mengejek, menyebut nama-nama yang tidak pantas, membuat anak merasa kekanak-kanakan, menentang identitas anak, martabat atau harga diri anak, mempermalukan, dan sebagainya.

Dalam budaya Nyablak, seringkali kita mendengar bentakan yang dilontarkan secara tiba-tiba pada anak seperti “Heh, bangun! Udeh jam segini lo pade belom bangun! Mo jadi ape lo bangun jam segini?” Meski terdengar biasa, hal ini dapat berdampak pada kognisi seorang anak yang kondisi mentalnya tidak stabil.

Kognisi merupakan pengenalan ataupun proses pengidentifikasian lingkungan secara psikologis. Anak-anak dalam proses ini cenderung menciptakan kesalahan dalam berasumsi terutama asumsi yang berasal dari pengalaman secara langsung. Hal ini terjadi ketika anak mengalami tekanan secara terus menerus dan mengasumsikan hal tersebut sebagai suatu realitas dimana orang tua hanya memberikan tekanan yang mempersulit kehidupannya. Kesalahan asumsi tersebut cenderung akan dipelihara dikarenakan sang anak akan merasa bahwa peristiwa tersebut merupakan suatu kejadian yang besifat personal terhadap dirinya.

Selanjutnya, kognisi memiliki implikasi pada pembentukan emosi sang anak. Dalam hal ini, Albert Ellis mengungkapkan bahwa kognisi sangat penting dalam memberikan kontribusi terhadap emosi dan tindakan, emosi juga berperan penting berkontribusi atau menjadi sebab terhadap kognisi dan tindakan, serta tindakan berkontribusi atau menjadi penyebab kognisi dan emosi. Bila seseorang mengalami perubahan dalam salah satu dari tiga ranah itu, maka cenderung akan mengalami perubahan dalam dua ranah lainnya.

Secara singkat, tidak menutup kemungkinan tekanan yang diberikan oleh orang tua melalui budaya Nyablak pada pola komunikasi dan asuh tersebut akan berdampak pada pemahaman sang anak terhadap orang tua yang kemudian memiliki hubungan sebab akibat pada pembentukan emosi dan tingkah laku anak kedepannya.

Beberapa kemungkinan yang mungkin muncul yaitu timbulnya anger issues pada anak, stress yang berkelanjutan, hilangnya motivasi dalam belajar, sampai pada depresi yang serius.

Kekerasan Verbal Terhadap LGBTI

Kondisi ini juga dapat diperparah terutama jika sang anak memiliki orientasi seksual maupun identitas gender yang berbeda. Miskonsepsi terhadap anak dengan perbedaan dalam hal seksualitasnya berpotensi mendapat tekanan yang lebih besar dari orang tua yang mana disebabkan oleh stigma buruk yang dikaitkan kepadanya. Anak-anak yang masih di bawah umur juga rentan akan kekerasan yang kedepannya dapat berdampak pada pembentukan memori yang dipelihara dalam pikiran impulsif mereka.

Pemeliharaan asumsi yang salah dari orang tua melalui pengajaran langsung juga berkontribusi pada kekerasan verbal yang diskriminatif terhadap anak. Pemeliharaan asumsi tersebut berdampak pada penurunan rasa percaya diri anak akan dirinya sendiri dan membuatnya merasa kesulitan dalam menjalankan kehidupan sosialnya di masyarakat.

Share this post

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on twitter
Share on email